Sistem Reservasi 5 Maskapai Asia Dibobol, Data Penumpang Terancam
- Rita Puspita Sari
- •
- 12 jam yang lalu
Japan Airlines
Sejumlah maskapai penerbangan di Asia tengah menyelidiki insiden keamanan siber yang berpotensi mengekspos data penumpang. Insiden ini melibatkan Amadeus, perusahaan teknologi asal Spanyol yang menyediakan sistem reservasi dan layanan digital bagi industri perjalanan.
Sedikitnya lima maskapai, yakni Japan Airlines (JAL), Japan Transocean Air, All Nippon Airways (ANA), Korean Air, dan Asiana Airlines, telah mengonfirmasi adanya indikasi akses tidak sah terhadap data reservasi penumpang yang dikelola melalui sistem Amadeus.
Dari sejumlah maskapai tersebut, JAL mengungkapkan bahwa sekitar 92.000 penumpang berpotensi terdampak. Informasi yang mungkin terekspos mencakup data reservasi, identitas penumpang, hingga informasi pribadi yang lebih sensitif.
Insiden ini menjadi perhatian karena sistem yang digunakan untuk mengelola reservasi penerbangan merupakan bagian penting dari operasional maskapai. Kebocoran data pada penyedia teknologi pihak ketiga berpotensi menimbulkan dampak terhadap sejumlah perusahaan sekaligus.
Data 92.000 Penumpang JAL Berpotensi Terekspos
Japan Airlines mengumumkan insiden keamanan tersebut pada 28 Oktober 2026. Maskapai asal Jepang itu menyatakan telah menerima pemberitahuan dari Amadeus pada 23 Oktober mengenai indikasi akses eksternal terhadap sebagian data reservasi penumpang.
JAL menggunakan sistem Amadeus untuk mengelola reservasi, penerbitan tiket, dan proses check-in. Berdasarkan hasil pemeriksaan awal, insiden tersebut berpotensi memengaruhi sekitar 92.000 penumpang yang memiliki reservasi penerbangan dengan kode JAL maupun anak perusahaannya, Japan Transocean Air.
Dalam pengumumannya, JAL menjelaskan bahwa data sekitar 90.000 penumpang berpotensi diakses oleh pihak tidak berwenang. Informasi tersebut meliputi kode reservasi, nama penumpang, tanggal penerbangan, rute perjalanan, dan kelas layanan.
Sementara itu, sekitar 2.000 penumpang lainnya berpotensi mengalami paparan data yang lebih lengkap. Informasi yang mungkin terekspos mencakup alamat e-mail, nomor telepon, nomor paspor, kewarganegaraan, nomor keanggotaan program frequent flyer, nomor tiket, hingga nomor kursi yang telah ditentukan.
Meski demikian, JAL menegaskan bahwa nomor kartu kredit dan kata sandi pelanggan tidak terdampak dalam insiden ini.
Maskapai tersebut juga menyatakan belum menemukan indikasi bahwa data yang berpotensi terekspos telah disalahgunakan untuk aktivitas penipuan. Operasional penerbangan JAL dipastikan tetap berjalan normal dan tidak mengalami gangguan akibat insiden tersebut.
JAL mengidentifikasi rentang waktu data yang berpotensi terdampak mulai 10 Agustus 2023 hingga 23 September 2026.
Rentang tersebut merujuk pada periode data reservasi yang berpotensi diakses, bukan berarti pelaku telah dipastikan memiliki akses terus-menerus terhadap sistem selama lebih dari tiga tahun.
Untuk menindaklanjuti kejadian ini, JAL menyatakan akan menghubungi pelanggan yang terdampak secara langsung. Maskapai juga mengingatkan penumpang agar meningkatkan kewaspadaan terhadap e-mail, panggilan telepon, maupun situs web palsu yang mengatasnamakan perusahaan.
ANA Selidiki Potensi Kebocoran Data Penumpang
Selain JAL, All Nippon Airways (ANA) turut mengonfirmasi adanya indikasi akses tidak sah terhadap sistem yang dikelola Amadeus.
Pada 29 Oktober 2026, ANA menyatakan telah menerima pemberitahuan dari penyedia teknologi tersebut. Maskapai kini bekerja sama dengan Amadeus untuk menyelidiki cakupan insiden serta jenis informasi yang kemungkinan terekspos.
Hingga pengumuman tersebut disampaikan, ANA belum merinci jumlah penumpang yang berpotensi terdampak maupun kategori data yang mungkin telah diakses oleh pihak tidak berwenang.
Maskapai menyatakan akan memberikan informasi lebih lanjut kepada pelanggan yang terdampak setelah penyelidikan selesai. Langkah tersebut diperlukan untuk memastikan apakah insiden hanya memengaruhi informasi reservasi atau turut melibatkan data pribadi lainnya.
Korean Air dan Asiana Airlines Juga Terdampak
Insiden keamanan yang melibatkan Amadeus sebelumnya telah dilaporkan oleh dua maskapai asal Korea Selatan, yaitu Korean Air dan Asiana Airlines. Keduanya mengumumkan kejadian tersebut pada 23 Oktober 2026, setelah menerima pemberitahuan dari Amadeus pada 20 Oktober.
Dalam pernyataan masing-masing, kedua maskapai menyebut bahwa data yang terdampak mencakup nomor reservasi sebagian pelanggan. Hasil penyelidikan awal mengindikasikan bahwa akses tidak sah dilakukan menggunakan kredensial yang terkait dengan akun sistem Amadeus.
Kredensial merupakan informasi autentikasi, seperti nama pengguna dan kata sandi, yang digunakan untuk mengakses suatu sistem. Apabila kredensial tersebut jatuh ke tangan pihak tidak berwenang, pelaku dapat memanfaatkannya untuk memperoleh akses ke layanan yang seharusnya hanya digunakan oleh pihak tertentu.
Meski demikian, Korean Air dan Asiana Airlines menyatakan belum menemukan indikasi bahwa basis data internal milik mereka telah dibobol.
Kedua maskapai masih bekerja sama dengan Amadeus untuk mengetahui apakah ada informasi lain yang turut terekspos. Mereka juga telah mengambil langkah perlindungan dan menyampaikan informasi kepada pelanggan terkait insiden tersebut.
Hingga kini, belum tersedia angka gabungan mengenai jumlah penumpang yang berpotensi terdampak di seluruh maskapai.
Jumlah sekitar 92.000 penumpang yang diumumkan JAL hanya mencakup pelanggan Japan Airlines dan Japan Transocean Air, sehingga tidak dapat digunakan sebagai gambaran keseluruhan dampak insiden.
Risiko Penipuan dan Phishing Mengintai Penumpang
Insiden ini memperlihatkan bahwa kebocoran data tidak selalu berasal dari sistem internal perusahaan. Penggunaan layanan teknologi pihak ketiga juga dapat membuka risiko keamanan, terutama ketika penyedia layanan tersebut menangani informasi penting milik banyak perusahaan.
Dalam industri penerbangan, sistem reservasi terintegrasi membantu maskapai mengelola pemesanan tiket, jadwal perjalanan, serta informasi penumpang secara efisien.
Namun, ketika satu penyedia layanan mengalami insiden keamanan, dampaknya berpotensi meluas ke berbagai perusahaan yang menggunakan sistem tersebut.
Risiko berikutnya adalah penyalahgunaan data untuk menjalankan penipuan digital.
Informasi seperti nama penumpang, kode reservasi, dan jadwal penerbangan dapat dimanfaatkan untuk menyusun pesan phishing yang lebih meyakinkan. Pelaku dapat menyamar sebagai pihak maskapai dan mengirimkan pemberitahuan palsu mengenai perubahan jadwal, pembatalan penerbangan, atau masalah pembayaran.
Apabila pelaku juga memperoleh alamat e-mail, nomor telepon, atau nomor paspor, upaya penipuan dapat menjadi semakin sulit dikenali. Penumpang bisa menerima pesan yang terlihat sesuai dengan perjalanan mereka, sehingga lebih mudah percaya dan mengikuti instruksi yang diberikan.
Karena itu, penumpang perlu berhati-hati terhadap permintaan pembayaran tambahan, perubahan informasi reservasi, maupun permintaan data pribadi yang dikirim melalui saluran komunikasi tidak resmi. Pelanggan juga sebaiknya tidak sembarangan mengeklik tautan atau memberikan kode verifikasi kepada pihak yang mengaku sebagai perwakilan maskapai.
Amadeus Telah Menerapkan Langkah Pengamanan
Amadeus telah memberi tahu perusahaan-perusahaan terkait bahwa langkah pengamanan yang diperlukan telah diterapkan. Meski demikian, detail teknis mengenai insiden tersebut, identitas pihak yang bertanggung jawab, serta metode yang digunakan untuk memperoleh akses belum diungkapkan secara lengkap.
Penyelidikan masih diperlukan untuk memastikan cakupan insiden dan mengetahui apakah ada informasi lain yang turut terdampak. Peristiwa ini kembali menegaskan pentingnya keamanan rantai pasok teknologi, khususnya bagi industri yang mengelola data pribadi dalam jumlah besar.
Perusahaan tidak hanya perlu memastikan keamanan sistem internal, tetapi juga mengevaluasi perlindungan data yang dilakukan oleh mitra teknologi mereka. Bagi maskapai penerbangan, insiden ini menjadi pengingat bahwa perlindungan data penumpang harus menjadi bagian penting dari pengelolaan layanan digital.
Sementara bagi penumpang, kewaspadaan terhadap komunikasi mencurigakan menjadi langkah awal untuk mengurangi risiko penyalahgunaan informasi pribadi. Informasi mengenai insiden ini dihimpun dari Digital Shield.
