Malware PoeLLM Serang Server AI, Ribuan Server Terinfeksi
- Rita Puspita Sari
- •
- 1 jam yang lalu
ilustrasi serangan siber
Peneliti keamanan siber mengungkap kampanye serangan malware bernama PoeLLM yang telah menginfeksi lebih dari 3.400 server di berbagai negara. Malware ini menargetkan infrastruktur Artificial Intelligence (AI) dan large language model (LLM) yang terhubung ke internet untuk menjalankan penambangan mata uang kripto secara ilegal sekaligus memperluas jaringan botnet.
Kampanye yang dikenal sebagai Canto Incognito tersebut memanfaatkan server yang telah diretas untuk memasang perangkat lunak penambang kripto, memindai internet, dan mencari sistem lain yang rentan. Dengan strategi ini, server korban tidak hanya menjadi sasaran serangan, tetapi juga dimanfaatkan untuk membantu menyebarkan malware ke perangkat lain.
Lumen Black Lotus Labs, tim riset keamanan siber dari Lumen Technologies, menemukan bahwa malware tersebut menggunakan sejumlah perangkat lunak penambang kripto, termasuk XMRig dan Iron. Server yang terinfeksi juga dihubungkan ke Kryptex, layanan penambangan mata uang kripto asal Rusia.
Dalam laporan yang dibagikan kepada The Hacker News, Lumen menjelaskan bahwa server yang berhasil disusupi digunakan kembali untuk memperluas botnet. Infrastruktur yang telah dikuasai diubah menjadi pemindai dan server eksploitasi agar pelaku dapat menemukan serta menginfeksi sistem lain yang memiliki kelemahan keamanan.
Temuan ini menunjukkan bahwa infrastruktur AI yang tidak terlindungi dengan baik dapat menjadi sumber daya berharga bagi penjahat siber. Selain berpotensi membuka akses terhadap data sensitif, server AI umumnya memiliki kemampuan komputasi tinggi yang dapat disalahgunakan untuk aktivitas ilegal.
PoeLLM Sembunyikan Server Kendali dalam Sebuah Puisi
Salah satu aspek paling menarik dari kampanye Canto Incognito adalah teknik yang digunakan malware PoeLLM untuk menyembunyikan alamat server kendalinya. Malware ini memanfaatkan puisi yang ditulis pelaku dan diunggah ke sebuah repositori GitHub. Di dalam puisi tersebut, terdapat informasi yang digunakan untuk memperoleh alamat command-and-control (C2), yakni server yang berfungsi mengirimkan instruksi kepada perangkat yang telah terinfeksi.
Repositori GitHub yang digunakan dalam kampanye tersebut berada di alamat github[.]com/ejejejdfbbebe dan pertama kali mencatat aktivitas pada 13 April 2026.
Ryan English, insinyur keamanan informasi di Lumen Technologies, menjelaskan bahwa pelaku mengubah beberapa kata dalam puisi setiap kali menyiapkan server C2 baru. Malware kemudian menggunakan kunci yang berkaitan dengan kata-kata tersebut untuk menentukan alamat server yang harus dihubungi.
Teknik ini membuat mekanisme komunikasi malware tidak bergantung pada alamat server yang ditulis secara langsung di dalam kode. Dengan mengubah isi puisi, pelaku dapat memperbarui informasi server kendali yang digunakan malware.
Peneliti juga menduga puisi tersebut dibuat menggunakan kecerdasan buatan. Dugaan ini muncul karena komentar dalam malware dan halaman GitHub milik pelaku menggunakan bahasa Italia, sementara data lalu lintas jaringan mengindikasikan bahwa pelaku kemungkinan berada di Italia.
Menurut English, penggunaan AI untuk membuat puisi tersebut merupakan kemungkinan yang masuk akal. Pasalnya, teknik penyamaran alamat server itu dapat diterapkan pada puisi dalam berbagai bahasa, sedangkan pelaku terlihat lebih memilih menggunakan bahasa Italia.
Meski demikian, dugaan keterlibatan AI dalam pembuatan puisi tersebut belum dapat dianggap sebagai fakta yang terkonfirmasi.
Infrastruktur AI dan Layanan Perusahaan Menjadi Target
Kampanye Canto Incognito terutama menyasar layanan dan perangkat yang dapat diakses langsung melalui internet. Sejumlah target yang teridentifikasi meliputi LiteLLM, Gotenberg, Gitea, dan perangkat Ivanti Sentry.
Layanan-layanan tersebut memiliki fungsi berbeda dalam lingkungan teknologi perusahaan. Namun, ketika layanan atau perangkat yang digunakan tidak dikonfigurasi dengan aman, diperbarui secara berkala, atau memiliki kerentanan yang belum ditambal, semuanya berpotensi menjadi pintu masuk bagi penyerang.
Penargetan terhadap infrastruktur AI dan LLM dilakukan karena server tersebut menawarkan kemampuan komputasi yang dapat dimanfaatkan untuk penambangan kripto. Dengan menguasai server milik organisasi lain, pelaku dapat menjalankan aktivitas tersebut tanpa harus menyediakan sendiri seluruh perangkat keras dan biaya operasionalnya.
Berdasarkan temuan Lumen Black Lotus Labs, malware PoeLLM telah aktif sejak April 2026. Lebih dari 3.400 server korban berhasil diidentifikasi, dengan konsentrasi infeksi terbesar berada di Amerika Serikat dan Eropa Barat.
Jumlah tersebut memperlihatkan bahwa serangan tidak hanya menyasar satu organisasi atau wilayah tertentu. Infrastruktur yang terhubung ke internet di berbagai negara dapat menjadi bagian dari jaringan botnet ketika memiliki kelemahan yang dapat dieksploitasi.
Lumen mencatat bahwa aktivitas kampanye mencapai puncaknya pada pertengahan Juni 2026. Pada periode tersebut, hampir 2.200 server terdampak, dengan sekitar 800 server aktif setiap hari.
Peneliti juga menemukan aktivitas lalu lintas jaringan yang lebih baru menuju layanan SSH dan portal login lainnya. Temuan ini mengindikasikan bahwa pelaku mungkin sedang bereksperimen dengan serangan distributed brute-force, yaitu upaya menebak nama pengguna dan kata sandi secara berulang dengan memanfaatkan banyak sistem.
Namun, Lumen belum dapat memastikan sejauh mana kemampuan serangan tersebut telah dikembangkan dan siap digunakan secara luas.
Server yang Diretas Digunakan untuk Mencari Korban Baru
Ancaman PoeLLM tidak berhenti pada penambangan mata uang kripto. Malware ini juga memanfaatkan server yang telah terinfeksi untuk memperluas jangkauan serangannya.
Setelah berhasil menguasai sebuah server, pelaku dapat mengubahnya menjadi pemindai yang mencari layanan serupa di internet. Tujuannya adalah menemukan sistem lain yang terbuka untuk publik dan memiliki kelemahan keamanan yang dapat dimanfaatkan.
Ketika menemukan target yang berpotensi rentan, server yang terinfeksi mengirimkan permintaan HTTP POST ke port terbuka pada sistem tersebut. Permintaan ini digunakan untuk menginstruksikan target agar mengunduh malware dari server C2.
Dengan mekanisme tersebut, server korban berperan sebagai bagian dari infrastruktur serangan. Perangkat yang semula digunakan untuk menjalankan aplikasi bisnis atau layanan AI justru dapat membantu penyerang menemukan dan menginfeksi korban berikutnya.
Pola penyebaran seperti ini memungkinkan botnet tumbuh secara bertahap. Setiap server yang berhasil dikuasai dapat menambah kapasitas komputasi untuk menjalankan penambangan kripto sekaligus memperluas proses pencarian target baru.
Akibatnya, dampak serangan dapat semakin besar apabila organisasi tidak segera mendeteksi aktivitas mencurigakan dan menghentikan akses yang dimanfaatkan pelaku.
Lumen Black Lotus Labs mengaitkan kampanye tersebut dengan pelaku ancaman yang kemungkinan menggunakan bahasa Italia. Penilaian dengan tingkat keyakinan sedang itu didasarkan pada artefak berbahasa Italia yang ditemukan selama penyelidikan serta indikator dari lalu lintas jaringan.
Meski demikian, identitas pasti pelaku belum terungkap.
Mengapa Infrastruktur AI Menarik bagi Penjahat Siber?
Meningkatnya penggunaan AI di lingkungan perusahaan turut memperluas permukaan serangan yang harus diamankan. Infrastruktur AI dan LLM tidak hanya mengelola aplikasi serta data, tetapi juga membutuhkan sumber daya komputasi yang besar untuk menjalankan berbagai beban kerja.
Kondisi ini membuat server AI menarik bagi pelaku kejahatan siber yang ingin memanfaatkan kapasitas komputasi pihak lain untuk memperoleh keuntungan finansial.
Lumen memperingatkan bahwa layanan AI dan LLM yang terekspos ke internet memiliki risiko ganda. Selain kemungkinan adanya kerentanan perangkat lunak, layanan tersebut dapat menyimpan data bernilai tinggi dan berjalan pada perangkat keras yang cukup kuat untuk menjalankan penambangan kripto.
Jika server berhasil dikuasai, organisasi dapat menghadapi berbagai dampak, mulai dari peningkatan penggunaan CPU dan memori, konsumsi listrik yang tidak wajar, penurunan kinerja layanan, hingga risiko kebocoran data dan penyalahgunaan infrastruktur untuk menyerang pihak lain.
Karena itu, perusahaan perlu memastikan bahwa layanan AI yang digunakan tidak terbuka untuk akses publik tanpa alasan yang jelas. Akses ke panel administrasi, layanan SSH, dan port jaringan sensitif juga perlu dibatasi hanya untuk pengguna atau sistem yang berwenang.
Selain itu, pembaruan keamanan harus diterapkan secara berkala untuk menutup kerentanan yang telah diketahui. Organisasi juga perlu memantau penggunaan sumber daya server, koneksi jaringan yang tidak biasa, serta proses yang berjalan tanpa izin.
Aktivitas seperti komunikasi dengan server C2 yang tidak dikenal, penggunaan CPU secara berlebihan, dan pemindaian terhadap banyak alamat IP dapat menjadi indikator awal adanya kompromi.
Repositori GitHub Penyerang Tidak Lagi Dapat Diakses
Dalam pembaruan penyelidikan, Lumen menyampaikan bahwa repositori GitHub yang digunakan untuk menyimpan puisi tersebut sudah tidak dapat diakses. Kondisi ini mengganggu kampanye karena malware PoeLLM memanfaatkan informasi dalam puisi untuk memperoleh alamat server kendali.
English mengatakan bahwa repositori itu kemungkinan merupakan satu-satunya repositori milik pelaku dan kini telah sepenuhnya dihentikan aksesnya.
Ia juga menjelaskan bahwa pengalihan rute jaringan atau null-route terhadap server C2 lama dan yang masih aktif mulai diberlakukan pada Selasa malam, lebih awal dari perkiraan. Pelaku kemungkinan menyadari perubahan tersebut.
Selama penyelidikan berlangsung, tim Lumen telah melaporkan aktivitas itu kepada GitHub. Namun, belum dapat dipastikan apakah repositori tersebut dinonaktifkan oleh GitHub karena penyalahgunaan atau pelaku memilih menghentikan aktivitasnya di platform tersebut.
Tidak dapat diaksesnya repositori dan terganggunya komunikasi dengan server C2 menjadi perkembangan penting dalam penanganan kampanye ini. Meski demikian, kondisi tersebut tidak otomatis menjamin bahwa seluruh server yang sebelumnya terinfeksi telah bersih dari malware.
Organisasi yang terdampak tetap perlu memeriksa sistem, mengidentifikasi proses berbahaya, menutup celah keamanan, dan memastikan tidak ada mekanisme yang memungkinkan penyerang kembali memperoleh akses.
Kasus PoeLLM menjadi pengingat bahwa infrastruktur AI tidak cukup hanya dilindungi dari kebocoran data dan akses tanpa izin. Keamanan konfigurasi, pembaruan perangkat lunak, pembatasan akses jaringan, serta pemantauan aktivitas server juga menjadi bagian penting dari perlindungan.
Tanpa langkah tersebut, sumber daya komputasi yang dibangun untuk mendukung inovasi dan operasional bisnis berisiko dimanfaatkan untuk menambang mata uang kripto secara ilegal, membangun botnet, dan melancarkan serangan terhadap sistem lain.
