Agen AI Bobol 100 Perusahaan, Hacker Cuma Modal Perintah


Ilustrasi Hacker

Ilustrasi Hacker

Seorang peretas berbahasa Mandarin memanfaatkan Artificial Intelligence (AI) untuk membobol situs web lebih dari 100 perusahaan di berbagai negara. Dengan hanya memberikan instruksi singkat, pelaku mampu mengerahkan agen AI untuk mencari celah keamanan dan mencoba menyusup ke sistem perusahaan secara mandiri.

Sejumlah perusahaan yang terdampak antara lain produsen alat pertanian Deere, perusahaan peralatan rumah tangga SharkNinja, dan produsen mesin Cummins. Dalam kampanye serangan ini, peretas tidak perlu melakukan sebagian besar proses peretasan secara langsung. Pekerjaan tersebut diserahkan kepada agen AI yang dapat beroperasi selama berjam-jam tanpa pengawasan manusia secara terus-menerus.

Kasus ini menjadi salah satu contoh nyata bagaimana teknologi AI dapat dimanfaatkan untuk menjalankan serangan siber yang kompleks. Bahkan, proses yang sebelumnya membutuhkan keahlian teknis dan keterlibatan manusia secara intensif kini dapat dilakukan dengan bantuan agen AI.

Aktivitas tersebut pertama kali diungkap oleh Snorre Fagerland, peneliti siber utama di perusahaan keamanan siber NorForge. Temuannya kemudian dilaporkan oleh Reuters.

Menurut Fagerland, kemampuan agen AI dalam serangan tersebut menunjukkan perubahan besar dalam lanskap keamanan siber.

"Ini dunia yang baru sekarang," kata Fagerland.

 

Agen AI Menjalankan Peretasan Secara Mandiri

Fagerland menemukan aktivitas mencurigakan tersebut ketika melakukan pemindaian internet untuk mencari instalasi Cairn yang terbuka dan dapat diakses secara publik.

Cairn merupakan platform pemecahan masalah berbasis AI sumber terbuka atau open source yang populer di kalangan peretas. Platform ini memungkinkan pengguna mengatur agen AI untuk menjalankan berbagai tugas, termasuk mencari dan menguji kelemahan keamanan pada sistem komputer.

Dalam kasus ini, pelaku memanfaatkan Cairn untuk mengoordinasikan sejumlah agen AI yang bertugas mencari celah keamanan pada situs web perusahaan. Setelah menerima instruksi, agen-agen tersebut menjalankan proses pencarian, pengujian, hingga upaya eksploitasi secara mandiri.

Fagerland mulai menemukan sekitar dua lusin instalasi Cairn yang digunakan untuk aktivitas berbahaya sejak sekitar 2 Oktober 2026. Melalui instalasi tersebut, ia dapat mengamati bagaimana para pelaku mengerahkan agen AI untuk menjalankan serangan siber.

Peretas yang menjadi fokus penyelidikan diketahui mulai mengarahkan agen AI untuk menyerang situs marketplace di Amerika Serikat, Kanada, Australia, dan Jepang pada 25 September 2026. Menariknya, instruksi yang diberikan kepada agen AI tergolong sangat singkat. Pelaku hanya menjelaskan taktik penyusupan yang diinginkan menggunakan kurang dari 100 karakter Mandarin. 

Setelah menerima perintah tersebut, agen AI bekerja sendiri untuk mencari target yang rentan dan mencoba menembus sistemnya. Kemampuan ini membuat proses serangan dapat berlangsung dalam skala besar tanpa mengharuskan peretas mengawasi setiap langkah yang dilakukan agen AI.

 

Target 1.200 Situs, Biaya Sekitar Rp 90 Juta

Berdasarkan pengamatan Fagerland, agen-agen AI yang digunakan dalam kampanye tersebut mencoba membobol lebih dari 1.200 situs web hingga akhir pekan sebelum laporan Reuters diterbitkan. Dari seluruh upaya tersebut, sekitar 100 perusahaan dilaporkan berhasil disusupi. Untuk serangan yang berhasil, agen AI umumnya membutuhkan waktu sekitar 23 jam untuk mencari dan menguji celah keamanan.

Fagerland memperkirakan kampanye tersebut menghabiskan biaya sekitar 5.000 dollar AS atau setara Rp 90,1 juta untuk penggunaan token AI. Dengan demikian, biaya rata-rata untuk setiap serangan yang berhasil diperkirakan mencapai sekitar 50 dollar AS atau Rp 901.000.

Jumlah tersebut menunjukkan bahwa penggunaan agen AI dapat membuat serangan siber berskala besar menjadi relatif murah dibandingkan dengan besarnya potensi kerugian yang ditimbulkan.

Serangan tersebut diduga memanfaatkan kombinasi model AI DeepSeek asal China dan Claude Code dari Anthropic.

Namun, kemampuan agen AI dalam kampanye ini tidak sekadar terbatas pada pemindaian otomatis untuk menemukan celah keamanan.

Fagerland menemukan bahwa ketika agen AI gagal menemukan kelemahan pada aplikasi publik milik sebuah perusahaan besar, agen tersebut justru mencari jalur lain untuk menembus sistem perusahaan. Agen AI menelusuri catatan digital, menemukan panel kontrol yang dapat diakses melalui internet, kemudian mengidentifikasi kelemahan pada cara panel tersebut memproses data.

Setelah melakukan percobaan selama berjam-jam, agen tersebut dilaporkan berhasil memanfaatkan kelemahan itu untuk membuat server menjalankan perintah berbahaya.

Temuan ini memperlihatkan bahwa agen AI dapat melakukan lebih dari sekadar menjalankan instruksi teknis sederhana. Teknologi tersebut juga mampu menyesuaikan pendekatan ketika menghadapi hambatan, mencari alternatif, dan melanjutkan upaya penyusupan.

Fagerland, yang telah bekerja di bidang keamanan siber selama hampir tiga dekade, mengaku terkesan dengan teknik yang digunakan agen AI tersebut.

 

Deere dan SharkNinja Mengonfirmasi Serangan

Sejumlah perusahaan yang tercantum sebagai korban dalam kampanye tersebut telah mengonfirmasi adanya serangan terhadap sistem mereka.

Deere mengatakan kepada Reuters bahwa perusahaan telah mengambil langkah-langkah perbaikan yang diperlukan setelah insiden tersebut. Perusahaan juga menyatakan tidak menemukan indikasi bahwa informasi sensitif telah diakses oleh pelaku.

Sementara itu, SharkNinja mengungkapkan bahwa serangan menyasar situs terpisah yang hanya memuat informasi dukungan produk. Perusahaan mengklaim ancaman tersebut telah berhasil dikendalikan. Cummins juga menyatakan sedang menyelidiki laporan mengenai potensi serangan siber terhadap situs web yang dioperasikan oleh salah satu vendor pihak ketiga.

Selain ketiga perusahaan tersebut, dua perusahaan kecil lainnya turut mengakui telah mengalami pembobolan sistem keamanan. Adapun sejumlah perusahaan lain yang tercantum dalam data Cairn belum memberikan tanggapan atas laporan tersebut. Informasi mengenai insiden ini dihimpun dari Reuters, Selasa (20/10/2026).

 

Ancaman Baru Bagi Keamanan Siber

Kasus ini memperlihatkan bagaimana perkembangan AI dapat mengubah cara serangan siber dilakukan. Peretas tidak lagi harus terlibat secara langsung dalam setiap tahap serangan, karena sebagian besar pekerjaan dapat diserahkan kepada agen AI.

Kemampuan agen AI untuk bekerja dalam waktu lama, mencari alternatif ketika menghadapi hambatan, dan menguji berbagai kemungkinan membuat proses serangan berpotensi menjadi lebih cepat dan luas. Di sisi lain, biaya penggunaan AI yang relatif rendah juga dapat menurunkan hambatan bagi pelaku untuk menjalankan serangan terhadap banyak target sekaligus.

Bagi perusahaan, insiden ini menjadi pengingat bahwa pengamanan tidak cukup hanya berfokus pada aplikasi utama yang dapat diakses publik. Infrastruktur pendukung, panel kontrol, serta sistem yang dikelola vendor pihak ketiga juga perlu mendapatkan perlindungan yang memadai.

Ketika agen AI mampu menemukan jalur alternatif untuk menembus sistem, setiap aset digital yang terhubung dengan perusahaan berpotensi menjadi pintu masuk bagi penyerang.

Kemampuan AI yang semakin mandiri pun menambah tantangan bagi tim keamanan siber. Mereka perlu mengantisipasi serangan yang dapat berlangsung selama berjam-jam, melakukan berbagai percobaan, dan menyesuaikan strategi tanpa menunggu arahan manusia.

Insiden yang melibatkan lebih dari 100 perusahaan ini menunjukkan bahwa ancaman siber berbasis AI bukan lagi sekadar kemungkinan di masa depan. Teknologi tersebut telah digunakan untuk menjalankan serangan nyata, dengan skala dan tingkat kemandirian yang semakin sulit diabaikan.

Bagikan artikel ini

Komentar ()

Video Terkait