Axios Diretas, Ancaman Siber Mengintai Apple dan Windows
- Rita Puspita Sari
- •
- 1 hari yang lalu
Ilustrasi Data Hacker
Serangan siber kembali mengguncang dunia teknologi global. Kali ini, targetnya bukan perusahaan raksasa secara langsung, melainkan sebuah komponen penting yang selama ini menjadi tulang punggung banyak aplikasi modern, yakni Axios. Insiden yang terjadi pada Senin (30/3/2026) waktu Amerika Serikat ini menjadi peringatan serius tentang rapuhnya rantai pasok perangkat lunak di era digital.
Axios dikenal sebagai salah satu library JavaScript paling populer di dunia pengembangan aplikasi. Fungsinya sangat vital, yaitu membantu aplikasi mengirim dan menerima data melalui protokol HTTP maupun HTTPS. Berkat kemudahan penggunaan dan fleksibilitasnya, Axios telah menjadi pilihan utama bagi jutaan developer di seluruh dunia, baik untuk aplikasi web maupun mobile.
Setiap minggunya, library ini diunduh hingga ratusan juta kali melalui platform distribusi package seperti npm. Tingginya tingkat penggunaan membuat Axios menjadi bagian tak terpisahkan dari infrastruktur digital modern. Banyak perusahaan besar, termasuk Apple dan Microsoft, turut mengandalkan software ini dalam berbagai sistem mereka.
Dalam insiden terbaru, peretas dilaporkan berhasil mengambil alih akun pengelola Axios di npm. Dari sana, mereka menyisipkan malware ke dalam versi library yang kemudian didistribusikan kepada para developer tanpa disadari. Modus ini tergolong berbahaya karena memanfaatkan kepercayaan terhadap software yang sudah dikenal luas.
Malware yang disisipkan diketahui berupa Remote Access Trojan (RAT), yakni jenis perangkat lunak berbahaya yang memungkinkan penyerang mengendalikan komputer korban dari jarak jauh. Dengan RAT, hacker dapat mencuri data sensitif, memantau aktivitas pengguna, bahkan menjalankan perintah tertentu tanpa sepengetahuan korban.
Yang membuat serangan ini semakin sulit dideteksi adalah teknik penyamaran yang digunakan. Axios yang terinfeksi tidak secara langsung mengandung kode berbahaya. Sebaliknya, library tersebut berfungsi sebagai “pintu masuk” yang secara diam-diam mengunduh malware tambahan ke dalam sistem korban. Setelah aktif, malware bahkan mampu menghapus jejaknya sendiri dan menyamar sebagai bagian dari sistem, sehingga sulit dilacak oleh perangkat keamanan.
Serangan ini dikategorikan sebagai “supply chain attack” atau serangan rantai pasok. Dalam metode ini, hacker tidak menyerang target utama secara langsung, melainkan memanfaatkan celah pada pihak ketiga yang menjadi bagian dari ekosistem teknologi. Dengan menyerang satu komponen seperti Axios, dampaknya dapat menyebar luas ke berbagai platform, termasuk macOS, Windows, hingga Linux.
Kasus ini juga mengungkap kelemahan mendasar dalam industri teknologi, yaitu ketergantungan besar terhadap software open-source. Meski fleksibel dan efisien, banyak proyek open-source dikelola oleh tim kecil dengan sumber daya terbatas. Hal ini membuat mereka rentan menjadi target serangan, meskipun digunakan oleh perusahaan besar seperti Amazon dan Google.
Sejumlah peneliti keamanan siber, termasuk dari Google Threat Intelligence Group, mengaitkan serangan ini dengan kelompok hacker yang diduga berasal dari Korea Utara, yakni UNC1069. Kelompok ini sebelumnya dikenal aktif dalam berbagai operasi siber, termasuk pencurian aset digital seperti cryptocurrency.
Meskipun serangan berhasil diidentifikasi dalam waktu relatif cepat, para ahli menilai dampaknya belum sepenuhnya bisa dipastikan. Ada kemungkinan sejumlah developer telah mengunduh versi Axios yang telah terinfeksi sebelum peringatan resmi dikeluarkan. Hal ini membuka potensi penyebaran malware yang lebih luas di berbagai sistem yang belum terdeteksi.
Menanggapi insiden ini, para pakar keamanan mengimbau perusahaan dan developer untuk segera mengambil langkah pencegahan. Di antaranya adalah memeriksa ulang dependensi yang digunakan, memperbarui library ke versi yang aman, serta melakukan audit keamanan secara menyeluruh. Langkah ini penting untuk memastikan tidak ada celah yang dapat dimanfaatkan oleh pihak tidak bertanggung jawab.
Serangan terhadap Axios menjadi pengingat bahwa ancaman siber kini semakin kompleks dan canggih. Tidak lagi hanya menyasar target besar secara langsung, tetapi juga memanfaatkan titik lemah di rantai pasok digital. Oleh karena itu, kewaspadaan dan praktik keamanan yang baik menjadi kunci utama dalam menjaga sistem tetap aman di tengah meningkatnya risiko di dunia maya.
