TeamViewer Temukan Celah Berbahaya, Versi Ini Wajib Update


Ilustrasi Cyber Security 29

Ilustrasi Cyber Security

TeamViewer memperbaiki celah keamanan berbahaya yang memungkinkan komputer yang dikendalikan melalui sesi jarak jauh menyerang komputer pengendalinya. Kerentanan ini dapat menyebabkan aplikasi TeamViewer pada komputer korban mengalami crash hingga memungkinkan penyerang menjalankan kode tertentu, bergantung pada sistem operasi yang digunakan.

Celah keamanan tersebut tercatat dengan kode CVE-2026-111585 dan memiliki skor 8,8 dari 10, yang masuk kategori keparahan tinggi. TeamViewer telah menyediakan perbaikan melalui pembaruan versi 15.83. Pengguna disarankan segera memperbarui aplikasi untuk menghindari potensi serangan.

Kerentanan ini menjadi perhatian karena serangan justru dapat berasal dari komputer yang sedang dikendalikan, bukan dari komputer yang mengambil alih kendali. Dalam sesi TeamViewer, komputer yang terhubung untuk mengendalikan perangkat lain disebut sebagai viewer, sedangkan komputer yang dikendalikan disebut host.

Dengan memanfaatkan celah tersebut, host yang berbahaya atau telah disusupi dapat menyerang viewer setelah pengguna memulai sesi kendali jarak jauh. Artinya, pengguna yang menerima sesi dari perangkat yang telah dikuasai penyerang berpotensi menjadi korban.

 

Celah Keamanan TeamViewer Berdampak pada Berbagai Platform

Menurut buletin keamanan TeamViewer, kerentanan CVE-2026-111585 memengaruhi TeamViewer Full Client pada Windows, Linux, dan macOS. Selain itu, TeamViewer Portable untuk Windows serta aplikasi Android Remote Control juga terdampak.

Seluruh versi sebelum 15.83 diketahui memiliki kerentanan tersebut, termasuk versi 15.82 yang dirilis pada September sebagai pembaruan keamanan.

Omri Dar, peneliti dari perusahaan keamanan siber Remedio, menerbitkan penjelasan teknis mengenai celah ini pada 29 Oktober. Dalam laporannya, Dar menegaskan bahwa posisi penyerang dan korban dalam kasus ini berbeda dari pola serangan jarak jauh yang umum terjadi.

"Penyerang adalah host dan korban adalah viewer," tulis Dar dalam laporan teknisnya.

TeamViewer tidak mencantumkan aplikasi Host sebagai produk yang terdampak langsung oleh kerentanan ini. Namun, pembaruan versi 15.83 juga memperbaiki dua celah keamanan lain yang memengaruhi Host. Karena itu, pengguna yang menjalankan aplikasi tersebut tetap disarankan melakukan pembaruan.

 

Cara Kerja Serangan

Celah keamanan ini berkaitan dengan cara TeamViewer menangani informasi ukuran layar dalam sesi kendali jarak jauh. Saat sesi berlangsung, host mengirimkan informasi mengenai ukuran gambar layar yang akan ditampilkan kepada viewer. Informasi tersebut digunakan oleh viewer untuk menentukan jumlah memori yang perlu dialokasikan guna menerima dan memproses data gambar.

Masalah muncul ketika terjadi kesalahan perhitungan dalam proses tersebut. Perhitungan yang melampaui batas nilai yang seharusnya dapat menyebabkan viewer mengalokasikan memori dalam jumlah terlalu kecil. Ketika data layar berikutnya diterima, sebagian data dapat ditulis melewati batas memori yang telah disediakan. Kondisi ini dikenal sebagai buffer overflow, yaitu ketika program menulis data melebihi kapasitas ruang memori yang tersedia.

Akibatnya, aplikasi TeamViewer pada komputer viewer dapat mengalami crash. Host yang berbahaya juga dapat memicu kondisi tersebut berulang kali sesuai keinginannya. Meski menyebabkan gangguan pada aplikasi, dampak serangan tidak berhenti pada crash. Remedio mengungkapkan bahwa celah ini juga dapat dimanfaatkan untuk menjalankan kode pada komputer viewer dalam kondisi tertentu.

 

Peneliti Berhasil Menjalankan Kode di Windows

Dalam demonstrasi yang dilakukan Remedio, peneliti berhasil mengembangkan serangan lebih jauh pada sistem Windows. Remedio menyatakan bahwa serangan tersebut dapat melewati mekanisme perlindungan eksploitasi bawaan Windows dan menjalankan kode sesuai keinginan penyerang pada komputer viewer.

Namun, demonstrasi tersebut masih memiliki keterbatasan. Peneliti menggunakan program tambahan pada komputer host untuk menyediakan sebagian data serangan. Dengan demikian, demonstrasi itu belum sepenuhnya menunjukkan serangan yang dilakukan hanya melalui jaringan.

Selain itu, hasil pengujian tersebut hanya diperlihatkan pada Windows. Laporan teknis Remedio tidak menjelaskan apakah metode serupa dapat diterapkan pada macOS, Linux, atau Android.

TeamViewer sendiri menyebutkan bahwa kemungkinan eksekusi kode bergantung pada platform yang digunakan.

Menurut Dar, serangan tidak memerlukan kata sandi maupun interaksi tambahan dari korban selain menerima sesi kendali jarak jauh. Celah tersebut juga dapat dieksploitasi menggunakan pengaturan bawaan TeamViewer, tanpa perlu mengubah konfigurasi aplikasi.

Hal ini membuat kerentanan tersebut perlu mendapat perhatian, terutama bagi pengguna yang kerap menerima koneksi kendali jarak jauh dari perangkat lain.

 

Pembaruan Versi 15.83 Jadi Solusi Utama

TeamViewer menyatakan bahwa pembaruan perangkat lunak merupakan satu-satunya solusi yang disediakan untuk mengatasi kerentanan tersebut. Perusahaan tidak mencantumkan solusi sementara atau workaround dalam buletin keamanannya.

Pengguna TeamViewer disarankan memperbarui aplikasi ke versi 15.83 atau yang lebih baru. Pembaruan ini penting karena versi 15.82 yang dirilis pada September ternyata belum mengatasi kerentanan CVE-2026-111585.

Selain memperbaiki celah tersebut, pembaruan versi 15.83 juga menutup dua kerentanan lain dengan tingkat keparahan tinggi. Salah satunya merupakan celah terpisah yang memungkinkan eksekusi kode dan berdampak pada Linux serta macOS.

Pada hari yang sama, TeamViewer juga menerbitkan buletin keamanan pendamping dengan kode TV-2026-1012. Buletin tersebut mengumumkan perbaikan enam celah keamanan tambahan pada fitur Remote Management TeamViewer. Perbaikan untuk fitur tersebut disalurkan melalui pembaruan otomatis.

 

Belum Ada Serangan yang Diketahui

TeamViewer menyatakan bahwa ketika perbaikan dirilis, perusahaan belum mengetahui adanya serangan yang memanfaatkan kerentanan CVE-2026-111585. Hingga daftar yang diterbitkan pada 29 Oktober, celah keamanan tersebut juga belum tercantum dalam katalog Known Exploited Vulnerabilities (KEV) milik Badan Keamanan Siber dan Infrastruktur Amerika Serikat (CISA).

Remedio turut melaporkan bahwa belum ditemukan serangan yang memanfaatkan kerentanan tersebut di dunia nyata. Perusahaan juga tidak merilis kode eksploitasi yang dapat digunakan untuk menjalankan serangan. Meski belum ditemukan penyalahgunaan di dunia nyata, kerentanan ini tetap berisiko karena dapat dimanfaatkan oleh host yang berbahaya setelah pengguna menerima sesi kendali jarak jauh.

Oleh sebab itu, pengguna TeamViewer perlu memastikan aplikasi yang digunakan telah diperbarui ke versi 15.83 atau yang lebih baru. Langkah tersebut menjadi perlindungan utama untuk menghindari potensi serangan melalui celah keamanan ini.

Bagikan artikel ini

Komentar ()

Video Terkait