Sistem Rumah Sakit UMMC Lumpuh Akibat Ransomware
- Rita Puspita Sari
- •
- 20 jam yang lalu
Ilustrasi Serangan Siber Kesehatan
Serangan ransomware kembali menghantam sektor layanan kesehatan di Amerika Serikat. Kali ini, Pusat Kesehatan University of Mississippi Medical Center (UMMC) menjadi korban, memaksa institusi tersebut menutup sementara sebagian besar kliniknya. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh manajemen rumah sakit, tetapi juga oleh pasien yang harus menerima pembatalan jadwal pemeriksaan dan operasi.
Insiden ini terdeteksi pada Kamis dini hari, 19 Februari 2026. Serangan siber tersebut melumpuhkan sejumlah sistem teknologi informasi milik UMMC, termasuk jaringan internal dan sistem rekam medis elektronik EPIC yang menjadi tulang punggung pengelolaan data pasien. Tanpa akses ke sistem digital tersebut, operasional klinik menjadi terganggu secara signifikan.
Akibatnya, berbagai janji temu pasien dan prosedur operasi yang telah dijadwalkan terpaksa dibatalkan. Pihak rumah sakit menyatakan bahwa seluruh jadwal yang terdampak akan diatur ulang setelah proses pemulihan sistem selesai dilakukan. Penutupan klinik diperpanjang hingga Jumat, 20 Februari 2026, sebagai langkah antisipasi sekaligus untuk memberi ruang bagi tim teknologi informasi melakukan penanganan insiden.
Meski demikian, tidak semua layanan dihentikan. Klinik dialisis ginjal yang berada di Jackson Medical Mall tetap beroperasi normal dan melayani pasien sesuai jadwal. Selain itu, unit gawat darurat juga tetap dibuka dan terus menerima pasien yang membutuhkan penanganan segera. Pelayanan bagi pasien rawat inap di rumah sakit pun tetap berjalan, dengan seluruh peralatan medis dan operasional klinis dilaporkan masih berfungsi sebagaimana mestinya.
Karena sistem rekam medis elektronik tidak dapat diakses, tenaga kesehatan terpaksa kembali menggunakan metode manual dengan mencatat informasi pasien menggunakan kertas dan pena. Situasi ini mengingatkan pada praktik lama sebelum era digitalisasi rumah sakit, namun menjadi solusi darurat agar pelayanan medis tetap dapat diberikan tanpa hambatan total.
Serangan ini juga berdampak pada Mississippi MED-COM, jaringan yang mengoordinasikan pemindahan pasien antar rumah sakit di seluruh negara bagian Mississippi. Beruntung, sistem tersebut telah memiliki mekanisme cadangan atau redundansi, sehingga proses pengalihan pasien ke berbagai rumah sakit tetap berjalan tanpa gangguan berarti.
Pihak UMMC bergerak cepat dengan melaporkan insiden ini kepada aparat penegak hukum. Mereka kini bekerja sama dengan Department of Homeland Security, Cybersecurity and Infrastructure Security Agency (CISA), serta Federal Bureau of Investigation (FBI). Kolaborasi lintas lembaga ini dilakukan untuk menginvestigasi sumber serangan sekaligus mempercepat proses pemulihan sistem.
Dalam konferensi pers, Agen Khusus FBI Robert A. Eikhoff menyatakan bahwa investigasi masih berada pada tahap awal. Menurutnya, masih terlalu dini untuk memastikan apakah ada data pasien yang berhasil dicuri atau sejauh mana tingkat kerusakan sistem yang ditimbulkan. Ia menegaskan bahwa berbagai sumber daya, baik dari tingkat lokal maupun nasional, telah dikerahkan untuk mendukung UMMC dalam menghadapi krisis ini.
Manajemen UMMC juga mengonfirmasi bahwa mereka telah melakukan kontak dengan kelompok yang diduga berada di balik serangan ransomware tersebut. Namun, identitas kelompok itu belum diungkapkan kepada publik. Hingga kini, belum ada pernyataan resmi apakah pihak rumah sakit mempertimbangkan untuk membayar tebusan yang kemungkinan diminta oleh pelaku.
Kasus ini kembali menyoroti kerentanan sektor kesehatan terhadap ancaman siber. Rumah sakit dan fasilitas medis menyimpan data sensitif dalam jumlah besar, mulai dari rekam medis hingga informasi pribadi pasien. Ketika sistem digital terganggu, dampaknya tidak hanya pada aspek administratif, tetapi juga berpotensi memengaruhi keselamatan dan kualitas pelayanan kepada pasien.
Serangan terhadap UMMC menjadi pengingat bahwa transformasi digital di sektor kesehatan harus diimbangi dengan sistem keamanan siber yang kuat. Di tengah meningkatnya frekuensi dan kompleksitas serangan ransomware secara global, investasi pada perlindungan data dan kesiapsiagaan menghadapi insiden siber menjadi kebutuhan mendesak. Bagi UMMC, fokus utama saat ini adalah memulihkan sistem secepat mungkin agar layanan kesehatan dapat kembali normal dan kepercayaan publik tetap terjaga.
