AS Sita Huione Cloud, Bongkar Jaringan Penipuan Siber Global
- Rita Puspita Sari
- •
- 21 jam yang lalu
Ilustrasi Money Laundry
Amerika Serikat kembali memperketat perang melawan kejahatan siber lintas negara. Department of Justice (DoJ) mengumumkan penyitaan sebuah akun layanan cloud computing yang diduga menjadi tulang punggung operasional jaringan HuiOne Group, konglomerasi asal Kamboja yang disebut berperan dalam pencucian uang hasil penipuan siber, investasi kripto ilegal, hingga perdagangan manusia.
Langkah tersebut diumumkan bersamaan dengan keputusan Departemen Keuangan Amerika Serikat yang menjatuhkan sanksi baru kepada sembilan individu dan 26 perusahaan yang memiliki keterkaitan dengan Prince Group, organisasi yang sebelumnya telah dikategorikan sebagai organisasi kriminal lintas negara (Transnational Criminal Organization/TCO).
Menurut Departemen Kehakiman AS, sejumlah anak perusahaan HuiOne Group diduga menyediakan berbagai layanan yang membantu pelaku kejahatan menyembunyikan dan memindahkan hasil tindak kriminal. Dana yang berasal dari penipuan investasi aset kripto, penipuan daring, hingga berbagai bentuk kejahatan siber lainnya dialirkan melalui jaringan blockchain sebelum akhirnya dikonversi ke sistem perbankan resmi tanpa mudah terdeteksi oleh otoritas.
Dalam penyelidikannya, DoJ menemukan bahwa akun cloud yang disita merupakan infrastruktur backend yang mendukung berbagai layanan milik HuiOne Group, termasuk platform HuiOne Guarantee atau yang juga dikenal sebagai Haowang Guarantee.
Platform tersebut dikenal sebagai marketplace ilegal berbasis Telegram yang beroperasi sepanjang 2021 hingga 2025. Selama periode tersebut, platform ini memfasilitasi transaksi bernilai miliaran dolar Amerika Serikat dengan memperjualbelikan berbagai produk dan layanan yang mendukung aktivitas kejahatan siber.
Beragam layanan ilegal tersedia di dalam marketplace tersebut, mulai dari penjualan data pribadi dan informasi keuangan hasil pencurian, jasa pencucian uang, hingga layanan pengembangan situs web yang digunakan untuk membuat platform investasi palsu maupun situs phishing.
Tak hanya itu, HuiOne Guarantee juga menyediakan akses terhadap perangkat lunak berbasis kecerdasan buatan (AI), seperti teknologi pertukaran wajah (face swap), kloning suara (voice cloning), serta deepfake yang memungkinkan pelaku menyamar saat melakukan panggilan video dengan calon korban.
Platform tersebut bahkan menawarkan jasa perekrutan tenaga kerja untuk jaringan perdagangan manusia yang kemudian dipaksa bekerja di berbagai pusat penipuan daring atau scam compound yang banyak ditemukan di kawasan Asia Tenggara.
Selain menyediakan berbagai produk ilegal, HuiOne Guarantee juga menjalankan layanan escrow atau rekening penampung yang berfungsi sebagai perantara transaksi. Layanan ini memberikan rasa aman bagi para pelaku kriminal ketika melakukan jual beli berbagai produk ilegal, termasuk layanan pencucian uang berbasis aset kripto.
Departemen Kehakiman AS menilai keberadaan layanan escrow tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat jaringan kriminal mampu memindahkan dana hasil penipuan dalam jumlah sangat besar tanpa mudah dilacak aparat penegak hukum.
Terlibat dalam Operasi Scam Center Asia Tenggara
Menurut DoJ, HuiOne Guarantee memainkan peran penting dalam mengalirkan dana hasil penipuan yang berasal dari berbagai scam center di Asia Tenggara.
Scam center merupakan kompleks yang menjalankan operasi penipuan daring secara terorganisasi. Para pekerja di lokasi tersebut umumnya dipaksa melakukan penipuan melalui media sosial, aplikasi pesan instan, hingga platform investasi palsu dengan target korban dari berbagai negara.
Temuan yang lebih mengejutkan sebelumnya diungkap oleh perusahaan analisis blockchain Elliptic pada Juli 2024.
Dalam laporannya, Elliptic menemukan bahwa sejumlah pedagang di HuiOne tidak hanya menjual layanan digital, tetapi juga menawarkan berbagai perlengkapan untuk mengendalikan pekerja di scam compound.
Barang-barang yang diperdagangkan meliputi gas air mata, tongkat listrik, hingga borgol elektronik yang diduga digunakan untuk mengurung maupun menyiksa para korban perdagangan manusia yang dipaksa bekerja sebagai pelaku penipuan daring.
Elliptic bahkan menemukan istilah-istilah yang digunakan para pedagang, seperti "mencegah pelarian" dan "mengendalikan anjing yang kabur". Sebutan "anjing" atau "dog pushers" menjadi istilah yang lazim digunakan untuk merendahkan para pekerja yang dipaksa bekerja di dalam scam compound.
Temuan tersebut semakin memperkuat dugaan bahwa jaringan penipuan daring modern tidak hanya berkaitan dengan kejahatan finansial, tetapi juga erat kaitannya dengan eksploitasi manusia.
Infrastruktur Teknologi Penopang Penipuan
Asisten Jaksa Agung Divisi Kriminal Departemen Kehakiman AS, A. Tysen Duva, mengatakan akun cloud yang disita merupakan bagian penting dari infrastruktur teknologi HuiOne Group.
Menurutnya, layanan cloud tersebut memungkinkan jaringan kriminal mengelola sistem operasional mereka, memindahkan dana hasil penipuan, menyembunyikan aliran transaksi, serta menjalankan berbagai layanan ilegal dalam skala internasional.
Ia menegaskan bahwa penyitaan infrastruktur digital seperti ini menjadi langkah strategis untuk memutus rantai kejahatan siber sekaligus menghambat proses pencucian uang yang selama ini memanfaatkan teknologi digital dan aset kripto.
Tutup, tetapi Digantikan Puluhan Marketplace Baru
Meski HuiOne secara resmi menghentikan operasinya pada Mei 2025, ekosistem kriminal yang dibangunnya ternyata belum benar-benar hilang. Penelitian terbaru dari perusahaan keamanan siber Flare mengungkap bahwa lebih dari 30 marketplace baru telah muncul setelah penutupan HuiOne.
Marketplace tersebut mengambil alih berbagai aktivitas yang sebelumnya dilakukan HuiOne Guarantee, termasuk menyediakan layanan pencucian uang, penjualan data curian, hingga penyediaan infrastruktur bagi pelaku penipuan daring.
Para operator juga mulai mengembangkan aplikasi komunikasi milik mereka sendiri untuk menghindari pemblokiran dari Telegram yang sebelumnya telah menutup sejumlah kanal terkait aktivitas kriminal. Peneliti Flare, Chris d'Eon, mengatakan bahwa operasi penegakan hukum sepanjang 2025 memang berhasil mengganggu aktivitas jaringan kriminal tersebut.
Namun, menurutnya, dampaknya belum cukup signifikan untuk menurunkan volume transaksi secara keseluruhan. Para pelaku hanya beradaptasi dengan berpindah ke platform baru, mengganti identitas kanal komunikasi, serta membangun ekosistem alternatif yang lebih sulit diawasi.
FinCEN Perketat Pengawasan
Dalam langkah terpisah, Financial Crimes Enforcement Network (FinCEN) di bawah Departemen Keuangan AS juga menetapkan H-Pay Service PLC sebagai lembaga yang menjadi perhatian utama dalam kasus pencucian uang.
Keputusan ini bertujuan mencegah HuiOne Group memanfaatkan perusahaan lain sebagai jalur untuk tetap mengakses sistem keuangan Amerika Serikat setelah sebelumnya dikenai berbagai pembatasan. Sebelumnya, pada Mei 2025, FinCEN juga telah menetapkan HuiOne Group sebagai organisasi yang menjadi perhatian utama terkait pencucian uang.
Elliptic menyebut HuiOne telah berkembang menjadi marketplace kriminal terbesar yang pernah ditemukan. Sebelum akhirnya ditutup, platform tersebut tercatat menerima transaksi aset kripto senilai lebih dari 31 miliar dolar AS.
Nilai tersebut jauh melampaui marketplace gelap legendaris seperti Silk Road dan AlphaBay. Bahkan, total transaksi HuiOne disebut lebih dari 25 kali lebih besar dibandingkan gabungan kedua platform ilegal tersebut.
Prince Group Ikut Dijatuhi Sanksi
Selain menindak HuiOne Group, Departemen Keuangan AS juga menjatuhkan sanksi terhadap pimpinan Prince Group, sejumlah investor yang diduga mendanai scam compound, serta berbagai perusahaan yang diduga menjadi perusahaan cangkang.
Sanksi ini diberikan setelah Prince Group sebelumnya dikategorikan sebagai organisasi kriminal lintas negara yang diduga membangun jaringan kejahatan berbasis penipuan daring, pencucian uang, dan eksploitasi tenaga kerja.
Ketua Prince Group, Chen Zhi, dilaporkan telah ditangkap, diekstradisi ke China, serta kehilangan kewarganegaraan Kamboja.
Pemerintah Amerika Serikat menegaskan bahwa organisasi kriminal yang berbasis di Asia Tenggara masih menjadi ancaman serius bagi masyarakat global. Dengan dukungan infrastruktur digital dan layanan keuangan ilegal, kelompok-kelompok tersebut mampu menjalankan operasi penipuan lintas negara dalam skala besar dan terus beradaptasi terhadap berbagai upaya penegakan hukum.
Penyitaan akun cloud HuiOne menjadi salah satu langkah terbaru dalam upaya memutus rantai kejahatan siber modern yang tidak hanya mengandalkan teknologi digital, tetapi juga memanfaatkan aset kripto, kecerdasan buatan, hingga jaringan perdagangan manusia sebagai bagian dari ekosistem kriminal global.
