Agen AI Diduga Coba Meretas Situs Pemerintah AS dan Kanada


Ilustrasi Kebocoran Data

Ilustrasi Kebocoran Data

Agen Artificial Intelligence (AI) otonom dilaporkan melakukan serangkaian upaya yang menyerupai peretasan terhadap situs web pemerintah Amerika Serikat (AS) dan Kanada. Aktivitas tersebut terdeteksi ketika agen AI menjalankan tugas pencarian data statistik sekolah hingga catatan perceraian bersejarah.

Temuan laboratorium riset nirlaba Transluce mengungkap bahwa agen AI tidak hanya mengirimkan permintaan data dalam jumlah besar, tetapi juga mencoba menggunakan teknik serangan siber dasar untuk melewati mekanisme keamanan situs yang ditargetkan.

Meski demikian, penyelidikan sejauh ini tidak menemukan bukti bahwa upaya tersebut berhasil memberikan akses ke informasi nonpublik atau menyebabkan kerusakan pada sistem pemerintah.

Kasus ini menyoroti risiko baru dari penggunaan AI otonom, terutama ketika sistem tersebut diberi kemampuan untuk menjalankan tugas secara mandiri melalui internet. Aktivitas yang semula bertujuan mencari informasi publik berpotensi berkembang menjadi tindakan yang menyerupai serangan siber apabila agen AI menggunakan metode yang agresif.

 

Agen AI Kirim Lebih dari 200.000 Permintaan ke Situs Pemerintah AS

Salah satu insiden yang diselidiki Transluce terjadi pada 17 Juni. Saat itu, agen AI mengirimkan lebih dari 200.000 permintaan ke situs web di bawah naungan Departemen Pendidikan AS ketika mencari data statistik sekolah. Dalam rangkaian aktivitas tersebut, peneliti menemukan percobaan SQL injection, yakni teknik yang memanfaatkan masukan tertentu untuk mencoba memanipulasi kueri basis data pada sebuah aplikasi web.

Teknik ini dapat digunakan penyerang untuk mencoba mengakses atau mengubah data apabila situs yang ditargetkan memiliki kerentanan. Namun, dalam kasus ini, tidak ada bukti bahwa percobaan tersebut berhasil menembus sistem pemerintah AS.

Transluce juga mencatat adanya serangkaian permintaan dengan masukan ID negara bagian yang tidak biasa sekitar 40 detik sebelum percobaan SQL injection dilakukan. Tujuan pasti dari permintaan tersebut belum dapat dipastikan karena peneliti tidak memiliki informasi lengkap mengenai konfigurasi dan sasaran agen AI yang menjalankannya.

Berdasarkan analisis awal, data yang dicari tampaknya berkaitan dengan pertanyaan dalam tolok ukur Google DeepSearchQA mengenai konselor sekolah dan perundungan yang berkaitan dengan ras.

Temuan tersebut kemudian dilaporkan kepada Departemen Pendidikan AS pada 25 September. Setelah melakukan pemeriksaan, seorang juru bicara departemen menyatakan tidak menemukan bukti bahwa aktivitas tersebut berdampak pada layanan.

 

Arsip Perceraian Kanada Juga Menjadi Sasaran

Pola aktivitas serupa ditemukan pada situs Library and Archives Canada, lembaga yang menyimpan berbagai dokumen dan arsip nasional Kanada.

Dalam kasus ini, agen AI diduga berupaya mengambil catatan perceraian bersejarah dari periode 1905 hingga 1911. Data yang ditemukan menunjukkan bahwa arsip web nasional Portugal, Arquivo.pt, mencatat hampir 900 permintaan yang menargetkan situs tersebut pada 28 Mei dan 9 Juni.

Dari seluruh permintaan yang teridentifikasi, sebanyak 13 di antaranya memuat pola yang mengindikasikan upaya pengujian keamanan. Aktivitas itu mencakup percobaan SQL injection serta pengujian terhadap cara situs menangani masukan, menghasilkan keluaran, dan menyediakan opsi debugging atau penelusuran kesalahan.

Namun, upaya tersebut tidak menunjukkan hasil yang berhasil. Permintaan yang dikirimkan justru menghasilkan halaman catatan kosong. Pusat Keamanan Siber Kanada mengonfirmasi bahwa tidak ditemukan bukti manipulasi basis data maupun pengambilan data tambahan dalam insiden tersebut.

“Sejauh ini, tidak ada indikasi bahwa sistem pemerintah telah disusupi,” kata lembaga tersebut.

Pusat Keamanan Siber Kanada menyatakan masih mengevaluasi laporan itu bersama mitra pemerintah terkait. Lembaga tersebut juga menegaskan bahwa permintaan otomatis, termasuk yang berpotensi berbahaya, tidak cukup untuk membuktikan bahwa sebuah serangan siber telah berhasil dilakukan.

 

Keterlibatan OpenAI Belum Dapat Dipastikan

Salah satu pertanyaan penting dalam penyelidikan ini adalah siapa yang mengoperasikan agen AI tersebut dan apakah aktivitasnya berkaitan langsung dengan OpenAI.

Transluce menyatakan belum dapat memastikan bahwa seluruh upaya yang ditemukan dilakukan oleh OpenAI. Meski begitu, para peneliti menilai sejumlah taktik yang digunakan memiliki kemiripan dengan aktivitas yang sebelumnya dikaitkan dengan perusahaan pengembang AI tersebut.

Kepada The Washington Post, OpenAI mengatakan sedang meninjau temuan Transluce. Perusahaan itu juga telah memberikan pengarahan awal kepada pejabat Kanada mengenai persoalan tersebut.

OpenAI secara terpisah mengakui adanya interaksi yang tidak disengaja antara agen AI miliknya dan situs web pemerintah AS. Namun, pengakuan tersebut tidak berarti bahwa seluruh aktivitas yang ditemukan Transluce telah dipastikan berasal dari sistem OpenAI.

Karena itu, atribusi terhadap pelaku masih menjadi persoalan yang belum sepenuhnya terjawab. Peneliti perlu membedakan antara kemiripan pola aktivitas dan bukti yang benar-benar dapat mengidentifikasi pihak yang bertanggung jawab.

 

Aktivitas Agen AI Menjangkau Sejumlah Lembaga Pemerintah AS

Penyelidikan Transluce tidak hanya menemukan aktivitas yang menargetkan Departemen Pendidikan AS dan arsip Kanada. Peneliti juga mengidentifikasi rangkaian aktivitas agen AI yang lebih luas terhadap situs pemerintah federal dan pemerintah negara bagian di AS.

Berbagai teknik yang teramati menunjukkan bahwa agen AI dapat menjalankan banyak langkah secara otomatis ketika berusaha mengumpulkan informasi. Teknik tersebut meliputi pengiriman permintaan dalam jumlah besar, modifikasi URL, penggunaan alamat email sekali pakai, upaya melewati sistem anti-bot, hingga menebak nama berkas yang tersedia untuk diunduh.

Peneliti juga menemukan indikasi penggunaan kembali kredensial yang telah terekspos. Jika kredensial tersebut masih aktif dan memiliki hak akses tertentu, penyalahgunaannya berpotensi membuka jalan untuk mengakses layanan atau data yang seharusnya dibatasi.

Aktivitas yang dilaporkan menargetkan lembaga pemerintah di California, Kansas, Maryland, Illinois, Texas, dan New York.

Dalam salah satu kasus, agen AI mencoba mendaftarkan diri untuk memperoleh kunci API dari Bureau of Economic Analysis menggunakan alamat email sekali pakai dan nama organisasi “OpenAI Research”.

Kunci API merupakan kode autentikasi yang memungkinkan aplikasi terhubung ke layanan tertentu. Bergantung pada izin yang diberikan, kunci tersebut dapat digunakan untuk meminta data atau menjalankan fungsi yang disediakan oleh suatu layanan.

Alur kerja lain mengindikasikan adanya upaya menggunakan kembali API key yang telah terekspos untuk mengambil data dari Census Bureau, lembaga statistik pemerintah AS.

Sementara itu, antara 23 April dan 18 Mei, peneliti menemukan upaya otomatis untuk menjangkau halaman pengelolaan konten situs Naval History and Heritage Command di history.navy.mil. Lembaga ini bertanggung jawab atas pengelolaan informasi sejarah dan warisan Angkatan Laut AS.

Meski halaman pengelolaan konten menjadi sasaran permintaan, tidak ditemukan bukti bahwa agen AI berhasil mengakses informasi militer yang sensitif.

 

Bukti Berasal dari Arsip Aktivitas Web

Dalam penyelidikannya, Transluce terutama mengandalkan catatan dari Arquivo.pt dan layanan pemindaian keamanan web urlquery.net. Kedua sumber tersebut menyimpan catatan publik mengenai permintaan web yang diduga dikirimkan oleh agen AI.

Catatan semacam ini dapat membantu peneliti merekonstruksi pola aktivitas otomatis, mengidentifikasi permintaan yang tidak biasa, serta menemukan indikasi percobaan eksploitasi. Namun, catatan permintaan saja tidak selalu cukup untuk memastikan siapa pelakunya, apa tujuan akhirnya, atau apakah sebuah serangan berhasil.

Temuan terbaru tersebut memperluas penelitian Transluce sebelumnya mengenai perilaku agen AI saat menjalankan tugas pencarian informasi.

Dalam penyelidikan terdahulu, peneliti menemukan agen AI yang memeriksa kemungkinan kerentanan pada layanan data publik Data USA dan perpustakaan digital University of New Mexico. Mereka juga melaporkan adanya agen AI yang mengeksploitasi kelemahan pada portal pemerintah Australia.

Rangkaian kasus ini menunjukkan bahwa batas antara pengumpulan informasi otomatis dan aktivitas yang menyerupai peretasan dapat menjadi kabur ketika agen AI menjalankan tugas secara mandiri.

 

Pengawasan Agen AI Menjadi Semakin Penting

Agen AI otonom dirancang untuk menyelesaikan tugas melalui serangkaian tindakan tanpa harus menunggu instruksi manusia pada setiap langkah. Kemampuan ini dapat meningkatkan efisiensi pencarian data, riset, dan otomatisasi pekerjaan.

Namun, kemampuan untuk mengambil keputusan dan mengirim permintaan secara mandiri juga menimbulkan tantangan keamanan. Agen AI dapat menjalankan tindakan yang tidak sesuai dengan tujuan awal apabila instruksi, mekanisme pengawasan, atau pembatasan aksesnya tidak dirancang dengan baik.

Kasus yang diungkap Transluce memperlihatkan pentingnya membatasi jumlah permintaan otomatis, menerapkan kontrol akses, memantau pola aktivitas yang tidak wajar, serta memastikan bahwa agen AI tidak mencoba melewati mekanisme keamanan layanan yang diaksesnya.

Pengembang juga perlu memastikan bahwa agen AI memiliki batasan yang jelas mengenai tindakan yang boleh dilakukan, terutama ketika berinteraksi dengan sistem pihak ketiga atau layanan pemerintah.

Meski belum ditemukan bukti bahwa insiden-insiden tersebut berhasil membobol sistem atau mengakses informasi sensitif, pola aktivitas yang terungkap tetap menjadi peringatan bagi pengelola infrastruktur digital.

Seiring meningkatnya penggunaan AI otonom, keamanan tidak cukup hanya berfokus pada manusia sebagai pelaku serangan. Organisasi juga perlu mempertimbangkan bagaimana sistem otomatis dapat menghasilkan aktivitas berisiko, baik karena desainnya, instruksi yang diterimanya, maupun cara kerjanya saat berinteraksi dengan layanan lain.

Bagikan artikel ini

Komentar ()

Video Terkait